Tips Mencegah Kebakaran Rumah

Kasus kebakaran rumah sudah sering terjadi. Penyebab utama tak lain adalah kelalaian penghuninya, mulai dari hubungan arus pendek, kompor meledak hingga benda-benda mudah terbakar yang diletakkan di tempat yang salah.
Yuk, pahami beberapa tips sederhana berikut agar terhindar dari kebakaran!
1.    Bijak dalam Menggunakan Alat-Alat Listrik
Gunakan peralatan listrik sewajarnya serta tidak melebihi beban kapasitas meter listrik di rumah Anda. Jangan lupa untuk selalu mematikan alat-alat listrik ketika sudah tidak digunakan lagi. Misalnya, mematikan komputer/laptop jika sudah tidak digunakan lagi.
2.    Jauhkan Pemantik dan Korek Api dari Jangkauan Anak-Anak
Rasa ingin tahu anak umumnya sangat besar sehingga bisa saja mereka memainkan pemantik atau korek api tanpa sepengetahuan Anda. Tindakan ini tentu saja dapat menimbulkan risiko terbakar pada benda-benda di sekelilingnya.
3.    Awasi Penggunaan Kompor Gas Sebagai Penyebab Rumah Kebakaran
Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah tidak menyolok bibir tabung gas dengan pisau serta melepaskan selang gas jika Anda berencana bepergian dalam waktu lama. Jangan lupa juga untuk menjauhkan benda-benda yang mudah terbakar dari sumber api.
4.    Berhati-hati Ketika Merokok
bara api yang ada di puntung rokok terkadang tidak benar-benar mati ketika diletakkan dalam asbak ataupun dibuang ke tempat sampah. Walaupun kecil, bara api ini bisa menimbulkan percikan api dan berisiko membakar benda-benda di sekitarnya. Jadi, pastikan bara api benar-benar padam ketika Anda membuang puntung rokok.
5.    Sediakan Alat Pemadam Kebakaran Rumah
Letakkan alat pemadam kebakaran di tempat-tempat yang dekat dengan sumber api, misalnya di dapur, agar ketika terjadi kebakaran Anda bisa dengan mudah memadamkannya.
6.    Pasang Alat Pendeteksi Asap untuk Mencegah Rumah Kebakaran
Smoke detector atau alat pendeteksi asap kini sudah lazim digunakan di rumah. Biasanya, alat ini dipasang di langit-langit dan bekerja dengan sensor.
7.    Susun Jalur Evakuasi yang Jelas
Salah satu langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak  yaitu membuat jalur evakuasi yang jelas dan tepat. Jadi, jika api terlalu besar untuk dipadamkan sendiri, Anda bisa segera menyelamatkan diri dan keluarga.

Tips Pencegahan kebakaran di dapur

Untuk  mencegah timbulnya kebakaran dapur dalam aktivitas kehidupan sehari-hari pentingnya memperhatikan keselamatan diri dan kewaspadaan dengan beberapa tindakan antara lain :

1. Cek Rutin

Lakukan pengecekan tabung, selang regulator dan regulator secara rutin untuk memastikan keamanan dan kelayakannya.

2. Ketahui Jika ada Kebocoran

Cek kebocoran gas sebelum menyalakan kompor. Berat jenis LPG lebih berat dibanding udara (sekira 2 kali lipat BJ udara), jadi kadang kita tidak mendeteksi di level ketinggian hidung kita, namun sudah menyebar di bagian bawah.

3. Jarak Aman

Jauhkan tabung gas dari bahan mudah terbakar lainnya, sumber panas/penyalaan, matahari langsung.

4. Jaga Kebersihan

Jaga kebersihan area dapur dan sekitarnya. Bersihkan sisa-sisa minyak di dapur setiap selesai aktifitas memasak.

5. Jauhkan dari Listrik/Sumber Panas

Jauhkan tabung dan kompor dari peralatan elektronik dan kabel listrik dari sumber panas/penyalaan.

6. Jangan meninggalkan dapur saat kompor menyala.

7. Menyediakan APAR/Tabung pemadam kebakaran di dapur.

Menurut NFPA untuk mengantisipasi terjadi kebakaran dapur sediakan APAR tipe wet dry chemical (Cairan Kimia, CO2) karena  kebakaran dapur merupakan klasifikasi kebakaran kelas K atau Kitchen yang penyebab kebakarannya terdiri dari (nabati, lemak, hewani, minyak, masakan).

8. Pahami metode dasar pemadaman api dengan benar.

Jika kebakaran melibatkan minyak yang overheated, JANGAN disiram air karena akan menyebabkan api semakin menyebar. 

9. Ketahui Nomor Darurat Damkar.

Pasang nomor-nomor darurat di tempat yang diketahui anggota keluarga sehingga jika terjadi kebakaran, mereka tahu nomor dinas pemadam kebakaran (Damkar) jika diperlukan

10. Belajar pencegahan dan penanganan kebakaran mandiri.

Edukasi menjadi kunci dasar pencegahan dan penanganan kebakaran agar tindakan yang kita lakukan bisa tepat guna dalam mengatasi masalah. Sumber berita dan informasi bisa digali melalui berbagai media untuk menjadi pengetahuan bersama terkait kebakaran, selain belajar mandiri dari informasi media mengikuti Training Damkar juga menjadi solusi terbaik. Training Damkar sebaiknya dilakukan oleh badan penyelenggara yang terpercaya.  Informasikan pencegahan kebakaran kepada orang-orang di sekitar kita agar mereka juga menjadi lebih peduli.

Tips Untuk Pencegahan Mandiri Dalam Potensi Kebakaran Di Dapur

Adapun tips untuk pencegahan mandiri dalam potensi kebakaran di dapur, antara lain;

  • Selalu bersihkan area dapur. Area dapur yang bersih memperkecil potensi kebakaran, seperti pembersihan sisa minyak di sekitar kompor. Penataan ruang dapur juga dapat meminimalisir terjadinya kebakaran, seperti penataan tabung gas yang jauh dari sumber api, penggunaan ventilasi yang cukup.
  • Siapkan alat pemadam kebakaran. Dapur skala kecil seperti di rumah cukup menyiapkan kain atau karung goni yang siap dibasahi untuk pemadaman sumber api kecil. Sedangkan dapur skala industry atau usaha kami menyarankan penyiapan APAR untuk antisipasi bila terjadi kebakaran. Penggunaan APAR jenis powder, foam atau clean agent liquid gas cukup efektif, untuk penggunaan APAR tipe CO2 perlu dilakukan oleh tenaga terampil.
  • Belajar pencegahan dan penanganan kebakaran mandiri. Edukasi menjadi kunci dasar pencegahan dan penanganan kebakaran agar tindakan yang kita lakukan bisa tepat guna dalam mengatasi masalah. Sumber berita dan informasi bisa digali melalui berbagai media untuk menjadi pengetahuan bersama terkait kebakaran. Tak lupa penyebarluasan informasi yang bermanfaat kepada orang-orang disekitar kita menjadi penting untuk mengedukasi secara lebih luas.

ANTISIPASI MANDIRI KEBAKARAN DI DAPUR

Berikut beberapa tips penanganan mandiri saat terjadi kebakaran di dapur:

  • Jangan panik
  • Segera matikan kompor atau putuskan selang sambungan gas. Sumber gas dari tabung menjadi pemicu kebakaran semakin besar, maka suplai gas perlu dimatikan atau dijauhakn dari sumber api.
  • Hindari menyiram sumber api dengan air. Tindakan awal dibutuhkan dalam penanganan kebakaran di dapur, namun disarankan untuk tidak menyiram air ke sumber api. Air yang disiramkan ke sumber api akan membuat penyebaran api semakin cepat, mengingat minyak panas akan terbawa air yang membuat api semakin menyebar.
  • Gunakan kain basah untuk memadamkan api. Penggunaan kain yang sudah dibasahi air untuk memadamkan api dengan cara menutup sumber api. Sumber api yang tertutup kain basah akan menghambat oksigen sebagai salah satu unsur api tetap menyala. Ingat, kain tdak perlu terlalu basah untuk menghindari menetesnya air dan memicu penyebaran api.
  • Hubungi Pemadam Kebakaran jika api semakin membesar dan tak terkendali.

PENYEBAB UATAMA KEBAKARAN DI DAPUR

Dapur sebagai salah satu bagian dari rumah menajdi area yang sering digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Penggunaan api dalam alat-alat dapur tentu menjadi potensi ancaman kebakaran, sehingga dapur menjadi temapt paling berisiko terjadinya kebakaran.

Adapun penyebab utama dari kebaran dapur anatara lain:

  • Kelalaian penghuni rumah mematikan api kompor
  • Penempatan bahan yang mudah terbakar dekat dengan sumber panas
  • Tabung gas dan regulator bocor atau kendor

Pencegahan timbulnya kebakaran tentu dengan meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan dengan beberapa tindakan sederhana. Namun begitu, jika sudah melakukan hal pencegahan namun “nahas-nya” masih terjadi kebakaran maka beberapa tindakan awal dibutuhkan untuk menangani kebakaran dengan tepat.

4 Cara Memadamkan Segitiga Api 

Kebakaran bermula ketika api terbentuk melalui reaksi oksidasi pada elemen segitiga api. Untuk mencegah terjadinya kebakaran, maka bisa dilakukan dengan memperkecil atau menghilangkan reaksi antara tiga unsur pembentuk api.

Reaksi pada triangle of fire bisa dihentikan dengan cara menghilangkan salah satu unsur pembentuk api. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memutus reaksi pada segitiga api agar api bisa padam. Cara memadamkan segitiga api adalah sebagai berikut:

1. Smothering (isolasi oksigen)

Memadamkan api dengan cara mengisolasi atau menyelimuti titik api. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen pada titik api.

2. Cooling (pendinginan)

Memadamkan api dengan cara mendinginkan suhu panas pada titik api.

3. Starvation (memindahkan bahan bakar)

Memadamkan api dengan mengurai atau memisahkan bahan bakar dari unsur lain pada segitiga api supaya terputus dari rantai nyala api.

4. Breaking chain reaction (memecah rantai reaksi kimia)

Memadamkan api dengan cara memutus reaksi kimia di antara tiga unsur segitiga api.

Tahap-tahap Kebakaran

Proses terjadinya kebakaran pada gedung atau ruang tertutup terbagi menjadi lima tahap, yaitu sebagai berikut 

a. Tahap Penyalaan / Ignition

Tahap ini ditandai dengan munculnya api dalam ruangan. Proses timbulnya api dalam ruangan ini disebabkan oleh adanya energi panas yang mengenai material yang dapat terbakar dalam ruang, misalnya: ledakan kompor, tabung gas, hubungan singkat arus listrik, puntung rokok membara, dll. Akibat dan gejala yang ditimbulkannya masih relatif kecil sehingga kejadian pada tahap ini seringkali tidak diketahui.

b. Tahap Pertumbuhan (Growth Period) 

Setelah tahap penyalaan, api mulai berkembang sebagai fungsi dari bahan bakar, dengan sedikit atau tanpa pengaruh dari ruangan. Udara yang ada di dalam ruangan masih cukup untuk mensuplai pembakaran. Jika material yang terbakar masih cukup banyak dan pertumbuhan api berlangsung terus, sehingga menyebabkan temperatur ruangan naik. Keadaan demikian ini disebut api dikendalikan bahan bakar. Pada tahap ini api masih teralokasi dan temperatur ruangan masih relatif rendah, di bawah 300 derajat C. Tahap pertumbuhan ini merupakan tahap yang paling baik untuk evakuasi penghuni dan sensor-sensor pencegah kebakaran harus sudah bekerja. Asap dan gas-gas beracun masih sedikit, sehingga ruangan masih cukup aman bagi tindakan evakuasi. Upaya pengendalian kebakaran sebaiknya dilakukan pada tahap ini, oleh karena selepas flashover api susah dikendalikan.

c. Tahap Flashover 

Flashover secara umum didefinisikan sebagai masa transisi antara tahap pertumbuhan dengan tahap pembakaran penuh. Proses berlangsungnya sendiri sangat cepat, berkisar 300-600 derajat C. Munculnya flashover disebabkan oleh adanya ketidakstabilan panas di dalam ruangan. Beberapa kriteria kapan terjadinya flashover yaitu:

  • Saat lidah api (flame) menyentuh langit-langit.
  • Saat lidah api (flame) mulai menjulur keluar bukaan. 
  • Saat temperatur lapis atas ruangan mencapai 300-600 derajat C.
  • Saat timbul tingkat radiasi kritis pada lantai ruangan yang besarnya 2 cm2.

Ketika flashover tercapai, yang sebelumnya terbakar sebagian mendadak dan serentak terbakar seluruhnya. Jadi flashover adalah kondisi batas dimulainya kebakaran total dalam ruangan. Kecepatan pembakaran naik secara cepat sehingga api sukar dikendalikan. Oleh karena itu perkiraan kapan terjadinya flshover sangat penting dalam pengkajian perilaku kebakaran dalam ruangan.

d. Tahap Pembakaran Penuh (Fully Developed Fire) 

Pada tahap ini kalor yang dilepaskan (heat release) adalah yang paling besar, karena kebakaran terjadi di seluruh ruangan. Seluruh material dalam ruang terbakar, sehingga temperatur dalam ruang menjadi sangat tinggi, mencapai 1200 derajat C. Pada tahap ini perkembangan api sangat dipengaruhi oleh dimensi dan bentuk ruangan, terutama lebar bukaan, karena udara dalam ruangan sendiri sudah tidak mampu menyuplai pembakaran sepenuhnya. Kondisi demikian biasa disebut sebagai api yang dikendalikan oleh ventilasi. Akibat yang mungkin timbul adalah rusaknya elemen-elemen akibat thermal stress, kerusakan pada komponen struktur pendukung, kemudian runtuhnya bangunan.

e. Tahap Surut (Decay) 

Tahap surut tercapai bila material terbakar sudah habis dan temperatur ruangan berangsur turun. Selain penurunan temperatur, ciri lain tahap ini adalah turunnya laju pembakaran. Pada tahap ini perkembangan api kembali sebagai fungsi dari material yang terbakar. Semakin menyusut bahan-bahan yang dapat terbakar dalam ruangan semakin api surut.

3 Faktor Penyebab Terjadinya Kebakaran

Ada 3 Faktor Penyebab Terjadinya Kebakaran.
– Bahan mudah terbakar (Padat, Cair, dan Gas)
– ⁠Unsur Panas (Matahari, Gesekan, Konsleting)
– ⁠dan Oksigen.

Jika satu dari hal diatas dihilangkan maka kebakaran tidak akan terjadi, tetapi jenis kebakan dikategorikan dalam beberapa klasifikasi dan cara untuk menanggulanginya, apa saja si klasifikasinya ?

Ayo kita sama-sama pahami Kebakaran berdasarkan penyebab dan klasifikasinya :

KELAS A
Adalah kebakaran yang menyangkut benda-benda padat kecuali logam. Contoh : Kebakaran kayu, kertas, kain, plastik, dsb.
Alat/media pemadam yang tepat untuk memadamkan kebakaran klas ini adalah dengan : pasir, tanah/lumpur, tepung pemadam, foam (busa) dan air .

KELAS B
Kebakaran bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar.
Contoh : Kerosine, solar, premium (bensin), LPG/LNG, minyak goreng.
Alat pemadam yang dapat dipergunakan pada kebakaran tersebut adalah Tepung pemadam (dry powder), busa (foam), air dalam bentuk spray/kabut

KELAS C
Kebakaran instalasi listrik bertegangan. Seperti : Breaker listrik dan alat rumah tangga lainnya yang menggunakan listrik.
Alat Pemadam yang dipergunakan adalah : Carbondioxyda (CO2), tepung kering (dry chemical). Dalam pemadaman ini dilarang menggunakan media air.

KELAS D
Kebakaran pada benda-benda logam padat seperti : magnesum, alumunium, natrium, kalium, dsb.
Alat pemadam yang dipergunakan adalah : pasir halus dan kering, dry powder khusus.

PENYEBAB UMUM KEBAKARAN

Kebakaran merupakan sebuah peristiwa yang tidak pernah diharapkan oleh siapapun, namun dapat terjadi kapanpun dan dapat menimpa siapapun. Banyak penyebab kebakaran disekitar kita. Bukan hanya listrik yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran, kompor, korek api, gas bocor, pembakaran sampah dan lain sebagainya juga sering menjadi pemicu terjadinya kebakaran. Untuk itu diharapkan bahwa masyarakat senantiasa selalu waspada terhadap resiko ancaman bahaya kebakaran yang selalu mengintai setiap saat.

Secara umum definisi kebakaran adalah nyala api yang tidak terkendali, tidak diinginkan dan dapat menimbulkan kerugian baik harta benda bahkan nyawa. Kebakaran bisa terjadi karea adanya unsur-unsur sumber api yaitu adanya sumber panas, oksigen , dan bahan bakar. Menurut data dari  Seksi Operasional dan Investigasi Kebakaran Bidang Pemadam Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman, penyebab kebakaran paling banyak adalah dari listrik.

  • Penggunaan stop kontak yang bertumpuk, sebaiknya hal seperti ini dihindari karena akan meningkatkan resiko terjadinya kebakaran.
  • Penggantian sikring secara sembaragan atau tidak sesuai dengan ukurannya
  • Pencurian listrik
  • Sambungan kabel yang tidak baik atau stop kontak yang kendor
  • Hubungan pendek/konsleting, seharusya jika pengaman/sikring bekerja dengan baik maka ketika terjadi hubungan arus pendek sikring akan putus atau mcb akan trip/turun maka kebakaran tidak akan terjadi.
  • Overload wires
  • Korek api atau adanya api terbuka seperi penyalaan lilin, kembang api, membkar sampah, puntung rokok dan lain sebagainya
  • Kompor memasak, gas bocor dan lain sebagainya,
  • Adanya bahan-bahan berbahaya yang mudah terbakar

Faktor Penyebab Kebakaran yang Sering Terjadi di Lingkungan Rumah

  • Colokan Listrik

Colokan yang menumpuk bisa memicu korsleting listrik dan insiden kebakaran. Maka lebih baik mulai hindari terlalu banyaknya kontak T atau sejenisnya yang menumpuk pada colokan listrik. Dikhawatirkan, penumpukan pada colokan listrik tersebut akan menimbulkan suhu panas yang berasal dari aliran listrik, lalu panas tersebut terperangkap, dan akhirnya menyebabkan korsleting listrik atau kebakaran.

  • Rokok

Merokok juga bisa menjadi faktor penyebab kebakaran. Rokok bisa menjadi penyebab kebakaran di lingkungan sekitar rumah, pasar, dan tempat yang padat penduduk lainnya. Pemantiknya adalah sampah-sampah plastik dan kertas. Bila puntung rokok dibuang sembarangan, kebakaran karena rokok berisiko terjadi. Maka hindari membuang puntung rokok sembarangan.

  • Cairan Bahan Bakar

Faktor penyebab kebakaran yang umum terjadi berikutnya yaitu cairan bahan bakar. Mulai dari bensin, solar, minyak tanah, lem, dan parfum. Untuk bisa menghindari pemantik api dari cairan tersebut, ada baiknya simpan cairan di tempat yang aman. Faktor penyebab kebakaran yang umum terjadi di kota-kota besar selain listrik adalah cairan yang ditaruh sembarangan. Parfum dan lem sebagai contohnya. Belum banyak yang sadar bahwa kedua bahan ini dapat membuat api menjadi lebih ganas. Kebakaran akan lebih parah dan besar ketika ada kedua bahan tersebut di dalam sebuah ruang.

  • Kabel Rusak

Faktor penyebab kebakaran yang umum terjadi berikutnya yaitu penggunaan kabel yang tidak layak atau rusak. Agar penggunaan kabel aman, sebaiknya hindari sering menggulung kabel. Tentu saja agar kualitas kabel tetap terjaga dengan baik. Kondisi lingkungan terkadang membuat kabel yang digunakan pada instalasi listrik menjadi rusak. Mulai dari mengelupasnya lapisan pembungkus kabel karena digigit oleh tikus, atau mungkin karena terlindas lemari. Maka dari itu, perlu dilakukan pengecekan secara rutin terhadap kondisi instalasi listrik di rumah. Perbaharui instalasi listrik di rumah minimal sekali dalam jangka waktu lima tahun.

  • Listrik Dekat Api

Paparan panas berlebih bisa menjadi salah satu penyebab korsleting listrik di rumah sampai memicu kebakaran. Sumber listrik yang terpapar panas berlebih akan berpotensi menimbulkan percikan api. Itulah mengapa, ada baiknya untuk menjauhkan peralatan listrik dari sumber panas seperti kompor dan sebagainya. Selain itu, kondisi sambungan kabel yang tidak rapi juga akan menjadi penyebab korsleting listrik di rumah dan faktor penyebab kebakaran yang umum terjadi.

  • Masalah Dapur

Faktor penyebab kebakaran yang umum terjadi berikutnya adalah masalah di dapur. Insiden kebakaran ini biasanya disebabkan oleh kelalaian saat sedang berada di dapur. Masalahnya bukan hanya ledakan kompor dan gas yang dapat menjadi penyebab kebakaran yang umum terjadi di rumah. Melainkan juga saat wajan dan panci menjadi sangat pantas lantaran tidak diperhatikan saat memasak. Bila keduanya terlalu lama kontak dengan api, maka potensi lalapan jago merah akan mengintai rumah. Untuk mengantisipasi masalah seperti ini, mulai hindari memasak sambil meninggalkan dapur

  • Petir

Petir merupakan faktor penyebab kebakaran yang umum terjadi. Petir tidak selalu menyebabkan kebakaran di lahan vegetasi, tetapi juga di rumah-rumah. Terutama bagi yang rumahnya tidak dipasang penangkal petir dan banyak alat elektronik di dalamnya. Biasanya sambaran pentir lebih berdampak pada musim kemarau, ketika lahan vegetasi kering dan mudah tersulut api.

  • Kemarau

Musim kemarau yang terlampau panjang merupakan salah satu faktor penyebab kebakaran berikutnya. Terutama kebakaran yang terjadi di hutan, biasanya akan sangat sulit dikendalikan. Kemarau bisa menjadi faktor penyebab kebakaran yang umum terjadi di rumah dan ladang. Hal ini terutama pada rumah dengan taman yang jarang terawat dan disiram, lalu di ladang yang sudah dipanen tetapi tidak kunjung diairi lagi.

  • Letusan Vulkanik

Letusan vulkanik gunung berapi juga bisa menjadi faktor penyebab kebakaran yang umum terjadi. Letusan gunung biasanya memicu kebakaran hutan dan akan menjadi semakin parah di musim kemarau yang panjang. Risiko terbesarnya, area vegetasi terbakar oleh material vulkanik yang dimuntahkan ketika terjadi sebuah letusan. Bila letusan terjadi sangat hebat, kondisi ini bisa menjadi faktor penyebab kebakaran yang umum terjadi di pekarangan warga area pegunungan. Kebakaran karena letusan gunung sangat sulit dikendalikan karena dipengaruhi oleh kondisi alam dan terjadi secara alami.