Obat-obatan P3K

Beberapa jenis obat penghilang rasa sakit antara lain balsem, minyak kayu putih, dan minyak angin. Adapun cara penggunaannya dengan mengusapkan atau dioleskan pada dada, kening, leher dan perut, atau bisa dengan cara dihirup.

Kegunaan atau manfaat yang ditimbulkan antara lain memberi rasa segar, menghilangkan rasa sakit, melonggarkan pernapasan atau menghangatkan tubuh.

2. Obat Luka Bakar

Jenis obat luka bakar adalah salep minyak ikan. Cara penggunaannya adalah dengan mengoleskan salep ke permukaan luka bakar.

Manfaat yang ditimbulkan pada luka bakar yang kecil dan ringan sangat efektif dan cepat menyembuhkan.

3. Obat Luka Ringan

Jenis obat pada luka ringan ialah Iodin povidon. Cara penggunaannya dengan membersihkan luka dengan obat pencuci luka terlebih dahulu, kemudian oleskan obat.

Manfaat atau kegunaannya adalah mempercepat penyembuhan pada luka yang ringan, seperti tersayat benda tajam dan menghindarkan luka dari kotoran agar tidak infeksi.

4. Obat Penyadar Orang Pingsan

Jenis obat pada luka ringan ialah amoniak cair 25 persen dan Eau de cologne. Cara penggunaannya dengan membasahi kapas dengan Amoniak atau Eau de cologne. Kemudian dekatkan kapas atau berikan pada hidung korban untuk dihirup sampai korban sadar.

5. Obat Pencuci Luka

Jenis obat pada luka ringan yang bisa digunakan ialah larutan antiseptik, alkohol 70 persen, dan boorwater (larutan boric). Adapun punggunaannya dengan cara membasahi kapas dengan larutan antiseptik, alkohol atau boorwater. Kemudian luka bersihkan dengan kapas yang sudah dibasahi dengan larutan tersebut.

Prinsip-Prinsip P3K

Prinsip-prinsip atau sikap saat melakukan usaha pertolongan pertama pada kecelakaan, sebagai berikut:

1. Bersikap tenang dan tidak panik.

2. Berikan pertolongan dengan cara yang cepat dan tepat.

3. Sebelum mengetahui berat ringannya cedera yang dialami, jangan cepat-cepat memindahkan atau menggeser korban.

4. Jika ada luka, diusahakan agar korban tidak melihatnya, sebab dapat membuat korban menjadi panik.

5. Setelah mendapat pertolongan pertama, korban sebaiknya segera dibawa ke dokter, rumah sakit, atau Puskesmas untuk penanganan selanjutnya.

Peralatan Dasar P3K

Ketika akan melakukan tindakan P3K, maka ada berbagai peralatan yang sebaiknya dimiliki atau dipersiapkan. Berikut adalah peralatan dasar yang terbilang cukup umum untuk menangani korban kecelakaan sesuai dengan tujuan P3K.

1. Kasa Steril

Pertama, ada kasa steril yang dapat digunakan untuk menutup luka. Kasa jenis ini merupakan kain khusus yang telah steril atau terbebas dari berbagai kuman. Kasa steril menjadi penting, sebab akan berisiko jika luka pada tubuh tidak terlindungi dengan baik.

2. Perban

Kedua, ada perban atau yang juga sering disebut dengan kasa pembalut. Umumnya, perban dibuat dari bahan kain yang tipis, lalu dapat digunakan untuk membalut bagian luka yang sebelumnya telah tertutup oleh kasa steril.

3. Plester

Selanjutnya, ada plester dengan fungsi sebagai perekat kasa supaya tidak mudah terlepas. Ketika meletakkan kasa untuk menutup luka, maka plester ini dapat direkatkan di beberapa bagian, lalu jangan sampai melewati bagian tengah dari luka.

4. Kapas

Untuk mencapai berbagai tujuan P3K, alat berikutnya yang penting dipersiapkan adalah kapas. Ada berbagai fungsi dari kapas, misalnya untuk mengoleskan obat atau membersihkan berbagai bagian tubuh yang luka. Umumnya, jika akan digunakan untuk membersihkan luka, maka kapas akan dibasahi terlebih dahulu dengan cairan pembersih luka atau air steril. Setelahnya, baru dapat digunakan untuk membersihkan berbagai jenis luka, sebelum nantinya diberikan tindakan lanjutan.

5. Jepitan atau Pinset

Dalam mendukung berbagai tujuan P3K, maka penjepit atau pinset juga seringkali diperlukan. Fungsinya yaitu untuk mengambil kotoran atau benda kecil yang terdapat di dalam luka. Bisa juga untuk mengambil berbagai benda kecil di sekitar luka atau area lainnya. Fungsi lainnya, pinset juga dapat digunakan untuk menjepit kasa atau kapas yang diperlukan dalam proses pengobatan.

6. Gunting

Selanjutnya, ada gunting yang juga sangat penting untuk menggunting berbagai kebutuhan medis, misalnya kasa dan perban. Untuk keperluan medis, maka sebaiknya gunakan gunting khusus untuk medis atau jenis gunting yang tahan karat. Hal ini menjadi penting supaya dapat menghindari risiko terjadinya infeksi. Sebelum dan setelah menggunakan gunting medis, sebaiknya dibersihkan dengan menggunakan cairan yang steril.

Tindakan Yang Diperlukan Ketika Terjadi Kecelakaan

1. Lakukan Pengamatan terhadap Situasi Sekitar

Hal pertama yang penting untuk dilakukan yaitu mengamati berbagai situasi dan kondisi di lingkungan sekitar tempat kecelakaan. Pastikan bahwa tidak ada hal-hal lain yang mengancam keselamatan, baik untuk korban, pihak pemberi tindakan P3K, maupun orang-orang lain di sekitar. Lakukan pengamatan terhadap berbagai hal, misalnya barang atau alat di sekitar, berbagai sistem kelistrikan, kendaraan, dan sebagainya. Ketika akan memberikan pertolongan, tetap pastikan bahwa Anda telah berada dalam kondisi yang aman dan memungkinkan untuk memberikan bantuan.

Jika masih belum aman, maka diperlukan berbagai tindakan pengamanan terlebih dahulu, sesuai situasi dan kondisi di lokasi kejadian. Dengan kondisi yang kurang aman, maka pemberian pertolongan tidak dapat berjalan dengan maksimal, atau bahkan dapat membahayakan bagi pihak penolongnya.

2. Amankan Kawasan Lokasi Kecelakaan

Sebelumnya, Anda telah melakukan pengamatan terhadap lingkungan di sekitar lokasi kejadian. Dengan pengamatan tersebut, maka dapat dilihat dan dinilai apakah tempat tersebut sudah aman atau belum untuk berbagai tindakan selanjutnya. Jika sudah aman, maka pertolongan pertama bisa segera diberikan sesuai dengan kondisi korban. Namun, jika ternyata lokasi tersebut belum aman atau masih ada potensi bahaya lainnya, maka sebaiknya segera amankan terlebih dahulu. Hal tersebut menjadi penting untuk mencegah terjadinya berbagai risiko atau kecelakaan lainnya, baik terhadap korban maupun orang lain yang berada di sekitar sana. Sebagai contoh, jika terjadi kecelakaan di lokasi pembangunan, maka segera perhatikan kondisi sekitar dan pastikan telah aman dari berbagai risiko. Jika masih ada alat berat atau bahan bangunan yang dirasa berbahaya, maka sebaiknya disingkirkan terlebih dahulu. Selanjutnya, pastikan juga orang lain yang berada di sana tetap aman. Ada baiknya untuk meminta orang yang tidak berkepentingan untuk menyingkir dari lokasi kecelakaan, karena bisa jadi justru membuat tindakan penyelamatan kurang maksimal.

3. Berikan Pertolongan Pertama

Jika kedua langkah di atas sudah dilakukan dan kondisi sekitar sudah dirasa aman, maka selanjutnya bisa masuk ke tahap pemberian pertolongan pertama. Hal pertama yang perlu dilakukan dalam tahap ini yaitu mengecek kondisi kesadaran korban kecelakaan. Caranya, bisa dengan menepuk pundak atau dengan memberikan suatu aroma untuk menyadarkan korban tersebut. Tindakan lain yang bisa dilakukan yaitu dengan memanggil namanya atau memberikan pertanyaan sederhana.

Jika dengan cara-cara tersebut masih belum bisa membuat korban tersadar, maka selanjutnya Anda bisa mengecek pernapasan dari korban. Dekatkan jari Anda ke bagian hidung korban, lalu rasakan apakah masih terasa napasnya. Selanjutnya, cek juga denyut nadi korban dan pastikan Anda masih bisa merasakan denyutan tersebut. Umumnya, pengecekan ini dilakukan dengan mengecek bagian pergelangan tangan atau lehernya Jika pengecekan tersebut tidak membuahkan hasil yang bagus, maka tindakan setelahnya yang bisa dilakukan yaitu melakukan resusitasi jantung dan paru atau kompresi dada.

Karena tidak bisa dilakukan secara sembarangan, maka pastikan Anda melakukannya dengan tepat sesuai dengan standar yang disarankan. Tindakan yang keliru bisa jadi justru menimbulkan berbagai risiko lain untuk korban. Maka dari itu, menjadi penting untuk memahami tata cara yang tepat untuk pertolongan pertama. Hal lain yang juga perlu dicek dalam pertolongan pertama yaitu kondisi fisik dari tubuh korban. Misalnya, apabila ada luka atau pendarahan di bagian tubuh tertentu. Segera lakukan penanganan jika memang ada hal tersebut.

Tujuan P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan)

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kecelakaan mungkin saja terjadi pada berbagai situasi, termasuk di dalam lingkungan kerja. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya kelalaian seseorang ketika sedang melakukan pekerjaannya, adanya alat kerja yang kurang sesuai standar atau sudah tidak layak pakai, hingga faktor alam yang sulit untuk diprediksi. Ketika kecelakaan terjadi, maka hal yang paling penting yaitu dapat melakukan pertolongan pertama untuk korban. Diperlukan tindakan yang tepat supaya korban dapat diselamatkan dengan optimal. Sebenarnya, ada berbagai tujuan dari P3K yang sebaiknya Anda ketahui, berikut merupakan penjelasan lebih lanjut tentang masing-masing tujuan tersebut.

1. Menyelamatkan Korban Kecelakaan

Tujuan P3K yang pertama dan sudah umum diketahui yaitu untuk menyelamatkan korban kecelakaan, termasuk kecelakaan di lingkungan kerja.

Dalam mencapai tujuan pertama ini, maka ada berbagai hal yang perlu diperhatikan tentang kondisi korban. Perhatikan bahaya apa yang sedang atau telah mengancam korban, lalu apa saja penanganan yang tepat untuk diberikan pada kondisi tersebut. Jika terjadi pendarahan, maka sebaiknya segera ditangani dengan tepat supaya pendarahan tersebut dapat berhenti. Selanjutnya, tindakan resusitasi jantung dan paru atau RJP juga dapat dilakukan apabila memang diperlukan oleh korban.

2. Mencegah Munculnya Kondisi yang Lebih Parah

Ketika ada yang mengalami kecelakaan, maka berbagai situasi dan kondisi mungkin saja terjadi pada korban. Bisa jadi, ada bagian tubuh yang terluka, parah tulang, pingsan, dan berbagai kondisi lainnya.

Maka dari itu, tujuan P3K berikutnya yaitu mencegah munculnya kondisi yang lebih parah. Sebagai contoh, terjadinya luka atau cacat yang lebih serius. Jika ada bagian tubuh yang luka, maka perlu segera ditangani supaya tidak menjadi infeksi atau semakin parah. Begitu pula dengan kondisi lainnya, perlu diperhatikan dan ditangani dengan tepat. Sebelum melakukan penanganan awal ini, maka penting untuk melakukan tindakan diagnosis terlebih dahulu. Selanjutnya, barulah dapat memberikan penanganan berdasarkan kemampuan dan prioritas yang logis.

Dalam melakukan berbagai penanganan awal ini, pastikan bahwa Anda sudah paham dasar-dasar pengetahuan yang sesuai. Jangan sampai justru membuat kondisi korban menjadi semakin parah dan lebih berisiko untuk keselamatannya.

3. Menunjang Proses Penyembuhan

Berikutnya, ada tujuan P3K untuk menunjang proses penyembuhan korban. Maka dari itu, pertolongan pertama hendaknya dapat mengurangi rasa sakit yang dialami oleh korban. Selanjutnya, penting juga untuk mengurangi rasa takut dari korban. Kecelakaan tentu saja dapat berpengaruh terhadap kondisi psikologis korban, sehingga hal ini juga penting untuk diperhatikan.

Tindakan P3K yang dilakukan jangan sampai membuat korban justru merasa semakin takut atau khawatir. Buatlah korban tenang, supaya dapat lebih mudah untuk menunjang penyembuhannya.

4. Mencarikan Pertolongan Lebih Lanjut sesuai Kebutuhan

Tujuan P3K yang selanjutnya yaitu mencarikan berbagai pertolongan lebih lanjut yang diperlukan oleh korban kecelakaan. Tugas penting ini berguna supaya korban dapat bertahan hingga mendapat penanganan yang lebih baik. Sesuai dengan jenis kecelakaan, perlu dicari pertolongan yang sesuai. Dengan begitu, korban dapat ditangani dengan optimal.

5. Mendukung Pertahanan Imunitas Korban

Ketika terjadi kecelakaan, berbagai hal yang tidak diinginkan mungkin telah terjadi. Hal ini mungkin saja dapat membuat korban merasa kaget atau syok. Perasaan tersebut umum dialami oleh korban setelah kecelakaan terjadi.

Sebaiknya, hal tersebut tidak diabaikan dan perlu segera ditangani dengan tepat. Meski kadang kurang disadari atau dipahami, namun perasaan syok tersebut bisa saja mengganggu imunitas korban. Akibatnya, korban kecelakaan dapat menjadi semakin lemah, meski mungkin sudah ditangani hingga tahap tertentu. Maka dari itu, perlu diketahui bahwa salah satu tujuan P3K yang tidak boleh diabaikan yaitu untuk mempertahankan sistem imunitas tubuh korban. Pastikan bahwa dengan adanya P3K tersebut, maka korban dapat merasa lebih tenang dan aman.

Dengan pikiran yang lebih tertata dan tenang, maka sistem imunitas pun dapat lebih meningkat. Selanjutnya, korban dapat memiliki motivasi dan harapan yang tinggi untuk segera pulih. Kondisi pikiran yang baik ini dapat menunjang proses pertolongannya.

Fungsi Jalur Evakuasi

Pada dasarnya, fungsi jalur evakuasi yaitu untuk menyelamatkan penduduk, pekerja, atau karyawan yang berada dalam bangunan ketika terjadi insiden berbahaya.

Biasanya poin penting jalur evakuasi adalah tanda atau peta yang menunjukkan kawasan aman. 

Kedua informasi berikut umumnya ditempatkan di tembok atau pada langit-langit gedung serta papan peringatan bencana setiap bangunan.

Terkait dengan itu, fungsi peta jalur evakuasi yaitu meminimalisasi risiko penduduk salah arah ketika berusaha menyelamatkan diri yang justru bisa membahayakan nyawanya serta mencegah terjadinya cedera serta kerusakan aset hingga kerugian materi.

Apa Itu Jalur Evakuasi?

Jalur evakuasi adalah rute yang didesain khusus untuk menghubungkan ruangan atau bangunan pada daerah aman jika terjadi bencana alam atau insiden kebakaran. Maksud dari daerah aman jalur evakuasi adalah ruangan terbuka yang jauh dari jangkauan gedung atau pepohonan besar seperti lapangan maupun lahan parkir. 

Sering disebut dengan titik kumpul, area ini digunakan sebagai tempat mobilisasi penduduk oleh regu penyelamat. Mengingat proses perpindahan penduduk perlu dilakukan dengan cepat, maka jalur evakuasi adalah termasuk rute pendek yang langsung menghubungkan lantai tertentu pada bangunan ke area terbuka. Umumnya, jalur evakuasi gedung bertingkat terdapat dalam suatu bangunan publik seperti puskesmas, rumah sakit, kantor kepolisian, maupun hotel. Terlebih pada kantor atau perusahaan, rute ini dapat ditemukan di setiap lantainya.

Sehubungan dengan itu, menurut Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 2005 tentang Bangunan Gedung, setiap bangunan di luar rumah tinggal tunggal dan rumah deret sederhana wajib menyediakan jalur evakuasi. Dalam hal ini, yang termasuk jalur evakuasi adalah peringatan bahaya, pintu keluar darurat, serta rute keselamatan pendek guna menjamin kemudahan pengguna untuk menyelamatkan diri secara aman.

Selain itu, ketentuan tentang jalur evakuasi adalah Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 07 Tahun 2015 Tentang Rambu dan Papan Informasi Bencana juga membahas terkait kewajiban memasang sign jalur evakuasi. Sign atau rambu arah jalur evakuasi digunakan untuk menginformasikan penduduk secara jelas tentang arah titik kumpul. Warna yang dipakai adalah hijau dengan garis tepi, lambang, warna huruf, atau angka putih.

Syarat Menentukan Titik Kumpul

  • Aksesibilitas

Menentukan titik kumpul evakuasi tidak boleh sembarangan karena memiliki fungsi yang sangat penting. Salah satu syarat yang wajib terpenuhi adalah terkait dengan aksesibilitas. Apa yang muncul di benak anda saat mendengar istilah tersebut? Benar saja, bahwa poin ini berkaitan dengan kemudahan akses dari titik kumpul itu sendiri.

Titik kumpul harus berada di spot yang mudah dijangka,berada di jarak yang aman dari bahaya, dan tidak terhalang. Spot ini harus aman dari kemungkinan terkena dampak reruntuhan bangunan, kebakaran, dan lain sebagainya. Informasi terkait dengan aksesibilitas sudah diatur oleh pemerintah, yaitu harus memiliki jarak minimum 20 meter dari gedung. 

Lokasi spot ini juga tidak boleh berada di titik yang dapat menghalangi datangnya ambulans, pemadam kebakaran, atau tim penyelamat yang lain. Disamping itu, lokasi ini juga tidak boleh dekat dengan lokasi lalu lintas yang padat, medan yang berbahaya, dan peralatan listrik yang berat atau bertegangan tinggi.

  • Luas area

Ukuran assembly point tidak boleh diabaikan, karena prinsipnya harus bisa menampung semua orang yang berada di lokasi sekitar titik kumpul evakuasi. Misalnya karawam dari sebuah perusahaan termasuk tamu atau kontraktor. Titik ini harus luas agar orang yang berkumpul tidak saling terjepit dan bisa bergerak dengan leluasa. 

Titik ini paling ideal berada di lokasi yang luas dan terbuka, seperti hal nya tempat parkir. Anda tidak boleh menggunakan pintu keluar atau lobi sebagai titik kumpul karena areanya yang sempit dan umumnya tidak memenuhi syarat aksesibilitas seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Jarak mereka dari gedung belum mencapai 20 meter sehingga masih bisa terkena dampak bahaya. 

  • Keamanan 

Tentu yang namanya titik kumpul harus aman dari resiko tambahan keadaan darurat. Spit in harus jauh dari pohon besar, sunga, atau segala aspek yang dapat menjadi penyebab bahaya sekunder setelah bencana. Jika ternyata keadaan darurat yang muncul adalah gempa bumi, maka memilih assembly point dekat pohon besar malah akan menambah resiko tertimpa pohon. 

  • Penanda titik kumpul

Sebuah titik kumpul evakuasi wajib memiliki titik penanda. Fungsi penanda adalah agar orang orang tahu jika tempat itu adalah aman. Tanda yang dipasang harus jelas dan sesuai dengan rambu K3. Pemasangannya juga harus di titik atau ketinggian tertentu agar tidak terhalang dan mudah terlihat. Ukurannya juga harus besar, agar mudah ditemukan oleh orang lain. 

Manfaat Titik Kumpul 

Pada poin sebelumnya, mungkin anda sudah terbayang apa manfaat dari titik kumpul. Benar saja, mereka menjadi spot penting terutama di area public atau pusat perkantoran. Titik kumpul evakuasi menjadi tempat yang cocok bagi karyawan gedung atau masyarakat sekitar untuk berkumpul saat terjadi bencana atau keadaan darurat.

Selian penting bagi masyarakat, spot ini juga penting bagi tim penyelamat. Tim tanggap darurat bisa menjadikan lokasi tersebut untuk mengumpulkan atau memastikan bahwa masyarakat berada dalam kondisi yang aman selama keadaan darurat. Tim penyelamat juga akan lebih mudah saat mengidentifikasi orang karena semuanya telah berkumpul. 

Ketika ada beberapa orang yang tidak dapat ditemukan, maka ada indikasi bahwa orang tersebut masih terjebak di kawasan yang berbahaya saat proses evakuasi. Tim penyelamat bisa langsung bergerak untuk mencari orang yang bersangkutan. Jika seandainya tidak ada titik kumpul, maka akan sulit untuk mengetahui siapa yang masih belum aman atau masih perlu bantuan. 

Apa Yang Dimaksud Titik Kumpul ?

Mungkin sebagian dari anda masih belum terlalu mengenal apa yang dimaksud dengan titik kumpul khususnya untuk evakuasi. Sebenarnya lokasi tersebut menjadi spot penting yang harus ada di sekitar gedung atau pusat keramaian. Nama lain dari titik kumpul dalam bahasa inggris adalah assembly point. Jadi anda tidak perlu bingung saat mendengar kata tersebut. 

Titik kumpul merupakan sebuah lokasi yang aman saat kondisi darurat dan dijadikan sebagai lokasi berkumpul. Keberadaan spot ini akan mempermudah proses evakuasi saat terjadi hal hal yang tidak diinginkan, misalnya saja gempa bumi. Spot tersebut juga bisa dijadikan tempat berlindung sementara mengingat pemilihan lokasinya yang dinilai aman.