Risiko Mengenakan Earplug

Meskipun memiliki banyak manfaat dan terbilang aman, pakai penutup telinga juga bisa menimbulkan dampak buruk. 

Hal ini dapat semakin berisiko jika Anda sangat sering menggunakan alat pelindung telinga ini.

Penggunaan alat ini dapat menyebabkan penyumbatan telinga. Penyumbat telinga bisa mendorong kotoran telinga yang seharusnya keluar.

Akibatnya, kotoran telinga akan kembali masuk, menumpuk, dan menimbulkan penyumbatan.

Dalam jangka panjang, penyumbatan kotoran telinga ini bisa menyebabkan telinga gatal, pusing, susah mendengar, dan tinnitus (telinga berdenging).

Oleh karena itu, jika Anda rutin mengenakan penyumbat telinga dan mengalami rasa tidak nyaman pada telinga, segera periksakan diri ke dokter.

Manfaat Earplug

Seperti yang telah disebutkan, penyumbat telinga berfungsi menjaga telinga dari paparan suara bising.

Namun, lebih dari itu, earplug ternyata juga bermanfaat untuk menurunkan risiko Anda terkena berbagai penyakit telinga dan membantu Anda tidur lebih nyenyak.

Berikut manfaat pakai earplug bagi kesehatan indra pendengaran Anda.

1. Mencegah tuli akibat kebisingan

Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) atau tuli akibat kebisingan adalah kerusakan struktur sensitif di dalam telinga akibat mendengar suara yang terlalu keras dalam waktu lama.

Kondisi ini merupakan satu-satunya gangguan pendengaran yang dapat dicegah. Salah satu caranya adalah dengan mengenakan pelindung pendengaran. 

Pelindung pendengaran, termasuk ear plug, direkomendasikan setiap kali Anda terpapar suara bising dalam waktu tertentu yang melampaui batas. 

Kategori suara bising yang melebihi batas yaitu di atas 85 desibel (dB) selama lebih dari delapan jam terus menerus.

Berikut aktivitas yang cenderung menghasilkan suara bising dalam waktu yang lama.

  • Mengoperasikan alat pemotong rumput.
  • Menggunakan alat-alat perkakas listrik.
  • Mengendarai mobil salju atau traktir pertanian.
  • Melakukan olahraga berburu atau menembak.
  • Menghadiri acara dengan suara bising, seperti kompetisi balapan mobil

Anda juga disarankan memasangkan penutup telinga untuk anak Anda ketika mengajaknya ke konser musik atau tempat-tempat dengan suara bising. 

2. Mencegah infeksi telinga

Menggunakan earplug saat berenang dapat mencegah terjadinya infeksi pada telinga Anda karena masuknya air, seperti pada penyakit otitis eksterna.

Otitis eksterna adalah infeksi yang terjadi pada saluran yang menyalurkan suara dari luar menuju gendang telinga (saluran telinga). 

Anda tentu akan rentan terinfeksi bila Anda sering berenang tanpa menggunakan sumbat telinga (ear plug).

Tak mengherankan bila beberapa orang lalu menyebut infeksi ini dengan swimmer’s ear (telinga perenang).

3. Membuat tidur lebih nyenyak

Earplug disebut-sebut bisa digunakan saat tidur. Alat ini dapat memblokir suara-suara di sekitar, terutama suara berisik yang mengganggu.

Bagi Anda yang tinggal di kawasan dekat pabrik, jalan besar, atau bandara, penutup telinga sangatlah memberikan manfaat.

Tidur lebih nyenyak pakai sumbatan telinga tentu bisa dampak pada kualitas hidup. Ambil contohnya, Anda jadi tidak mengantuk di siang hari, tetap produktif, suasana hati terjaga, dan tentunya terhindar dari stres.

Selain untuk tidur nyenyak, memakai penutup telinga memberikan manfaat lainnya.

Sebuah studi yang diterbitkan Iranian Journal of Nursing and Midwifery Research menunjukkan bahwa penyumbat telinga dan masker mata dapat merangsang hormon melatonin.

Hormon inilah yang memerintahkan tubuh untuk beristirahat dan tertidur.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya peningkatan tidur REM (rapid eye movement). Tidur REM adalah bentuk tidur yang meningkatkan aktivitas di otak dengan bermimpi. 

Ear Plug atau Penyumbat Telinga Terdiri Dari Dua Jenis

Earplug atau penyumbat telinga adalah salah satu alat penutup telinga untuk melindungi pendengaran. Alat ini terbuat dari busa atau plastik dan berukuran kecil.

Alat pelindung telinga ini dapat langsung digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam liang telinga.

Ada banyak jenis penyumbat telinga yang bisa dicuci dan digunakan berulang kali. Penyumbat telinga juga mudah digunakan dan dibawa ke mana-mana karena ukurannya yang kecil.  

Dikutip dari National Institutes of Health, ear plug terdiri dari dua jenis seperti berikut.

1. Earplug busa yang bisa diperbesar

Sesuai dengan namanya, earplug busa adalah penutup telinga yang terbuat dari gulungan tipis busa. Alat ini digunakan dengan cara dimasukkan hingga sekitar setengah jalan ke dalam liang telinga.

Setelah dimasukkan, penutup telinga dengan bahan busa akan menyesuaikan bentuk telinga Anda hingga terasa pas. 

2. Earplug yang sudah dilipat

Penyumbat telinga jenis ini terbuat dari plastik, karet, atau silikon. Bentuk alat pelindung telinga yang sudah dilipat ini biasanya runcing mirip dengan kerucut yang menyerupai es krim. 

Penutup telinga ini tersedia dalam ukuran yang dibedakan menurut umur.

Anak-anak dapat mengenakan penyumbat telinga berukuran kecil, sedangkan orang dewasa dapat mengenakan penyumbat telinga dengan ukuran yang lebih besar.

Perbedaan Utama Earmuff dan Earplug

Perbedaan utama antara earmuff dan earplug adalah cara mereka bekerja. Earplug menutupi saluran telinga secara langsung dan membantu meredam suara sebelum suara tersebut mencapai telinga. Earmuff, di sisi lain, menutupi seluruh telinga dan membantu menyerap suara sebelum mencapai telinga.

  • Kemampuan Meredam Suara

Meskipun keduanya memiliki kemampuan melindungi pendengaran, kemampuan pelindungan keduanya berbeda. Earplug biasanya lebih efektif dalam melindungi pendengaran ketika terkena suara bising dalam waktu yang singkat. Contohnya seperti ketika menggunakan mesin gergaji atau menembak senjata api.

Sedangkan earmuff, di sisi lain, lebih efektif dalam melindungi pendengaran dari suara yang terus menerus. Contohnya seperti ketika bekerja di area pabrik atau bandara.

Umumnya, earplug dapat meredam suara bising setara 30dB. Eearplug masih bisa digunakan untuk mengatasi tingkat kebisingan diatas 85db. Namun, jika tingkat kebisingan sudah mencapai diatas 110 dB, sebaiknya gunakanlah earmuff untuk perlindungan yang lebih baik.

  • Faktor Kenyamanan

Selain itu, kenyamanan penggunaan juga menjadi faktor penting dalam memilih antara earmuff dan earplug. Earmuff biasanya lebih nyaman digunakan dalam waktu yang lama karena bantalan busa atau gel yang lembut.

Earplug, di sisi lain, dapat terasa tidak nyaman jika digunakan dalam waktu yang lama karena diletakkan di dalam telinga dan dapat menimbulkan rasa sakit atau iritasi pada telinga. Namun, earplug cukup nyaman untuk digunakan untuk penggunaan sementara seperti saat sedang naik pesawat.

  • Faktor Harga

Selain itu, ketersediaan dan biaya juga dapat menjadi faktor penting dalam memilih antara earmuff dan earplug. Earplug biasanya lebih murah daripada earmuff.

Namun, earmuff yang berkualitas tinggi dapat memberikan perlindungan yang lebih baik dan lebih tahan lama. Hal tersebut sebanding dengan biaya yang dikeluarkan diawal.

  • Lingkungan Kerja

Ketika memilih antara earmuff dan earplug, perlu juga mempertimbangkan situasi dan kondisi penggunaannya. Jika Anda bekerja di lingkungan yang sangat berisik, earmuff dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Kemampuan pelindungannya lebih baik terhadap suara yang terus menerus.

Namun, jika Anda hanya membutuhkan pelindung telinga untuk suara bising 85 dB seperti saat naik pesawat atau menonton konser, gunakanlah earplug. APD ini mungkin lebih praktis dan mudah digunakan, karena dapat langsung dibuang setelah dipakai.

Pengertian Earplug atau Alat Pelindung Telinga

Earplug adalah alat pelindung telinga yang diletakkan di dalam telinga untuk menutup saluran telinga. Earplug biasanya terbuat dari busa, karet, atau bahan-bahan lain yang lentur.

Ada juga jenis earplug yang berbentuk segitiga memutar, seperti produk 3M Ultrafit 340-4002, dan bersifat reusable atau bisa digunakan kembali. Pada umumnya, earplug cenderung lebih praktis untuk digunakan. Biaya yang dikeluarkan saat Anda membeli produk ini pun cukup murah. Jadi, saat Anda membutuhkan perlindungan untuk kebisingan tingkat rendah hingga menengah, produk ini cukup direkomendasikan.

Traffic Cone Memiliki Beberapa Fungsi Penting Dalam Pengelolaan Lalu Lintas

Traffic cone memiliki beberapa fungsi penting dalam pengelolaan lalu lintas dan keselamatan jalan. Berikut ini merupakan beberapa fungsi dari Traffic Cone :

a. Pengalihan Lalu Lintas : Ketika perbaikan jalan, kecelakaan, atau acara khusus memerlukan pengalihan arus lalu lintas, traffic cone digunakan untuk membimbing pengemudi ke rute alternatif. Penempatan cone secara strategis membantu menjaga aliran lalu lintas yang lancar dan mencegah kemacetan.

b. Peringatan Bahaya : Traffic cone berfungsi sebagai petunju untuk memberikan peringatan kepada pengemudi tentang potensi bahaya, seperti lubang jalan, rintangan di jalan, atau permukaan yang tidak rata. Warna Cerah dan stript reflektif pada cone berfungsi untuk memastikan pengguna jalan dapat dengan mudah melihat dan menghindari bahaya bahaya yang ada pada jalur tersebut.

C. Keselamatan Zona Kerja : Konstruksi dan tim pemeliharaan menggunakan traffic cone untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman. Dengan menandai zona kerja, cone melindungi pekerja dan memberi peringatan kepada pengemudi untuk mengurangi kecepatan dan berhati hati saat melewati jalur tersebut.

d. Pengaturan Parkir : Traffic cone digunakan untuk pengendalian parkir sementara, menunjukkan area tanpa parkir, atau mereservasi tempat parkir selama acara. Kemudahan pemindahan dan visibilitas membuat cone menjadi alat yang efektif dalam mengatur area parkir.

Kelebihan Traffic Cone

Traffic cone ini memiliki beberapa kelebihan, yang berkontribusi pada peningkatan keselamatan jalan dan pengelolaan lalu lintas agar lebih efektif. Berikut adalah beberapa keuntungan utama dari traffic cone :

a. Visibilitas Tinggi : Warna cerah, serperti oranye atau hijau terang bersama dengan sticker reflektif, memastikan tarffic cone ini dapat mudah terlihat oleh pengguna jalan, bahkan dari jarak jauh dan pada malam hari. Visibilitas ini membantu pengemudi untuk mengantisipasi potensi bahaya pada jalur tersebut dan mengambil langkah pencegahan yang diperlukan.

b. Fleksibilitas dan Portabilitas : Traffic cone ini memiliki sifat portable sehingga dapat dipindahkan dengan mudah sesuai dengan kebutuhan. Fleksibilitas ini membuat traffic cone menjadi ideal sebagai aplikasi sementara pada situasi darurat.

c. Tahan Lama dan Tahan Cuaca : Sebagian besar jenis traffic cone terbuat dari bahan yang tahan lama seperti PVC atau karet yang menjamin ketahanan yang kuat terhadap kondisi cuaca dan suhu yang ekstrem. Mereka dapat bertahan dalam lalu lintas berat, suhu ekstrem dan paparan radiasi UV.

d. Aplikasi yang serbaguna : Traffic cone ini dapat dgunakan dalam berbagai skenario, termasuk pekerjaan jalan, acara, pengaturan area parkir dan situasi darurat di jalan raya. Keunggulan serbaguna ini menjadikan cone sebagai solusi yang hemat biaya untuk berbagai kebutuhan pengendalian lalu lintas.

Material Yang Berbeda Pembuatan Traffic Cone

Traffic cone atau kerucut lalu lintas sering juga disebut dengan nama lain yaitu safety cones, road cones, construction cones, dan traffic pylons. Alat penanda ini dapat terbuat dari material yang berbeda yaitu :

  • PVC

Cone dari material ini memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi, tahan dalam cuaca panas hingga suhu 650 C ataupun cuaca dingin hingga -300 C. Tingkat fleksibilitas yang tinggi membuat cone ini dapat kembali ke posisi semula saat puncak cone ditekuk hingga menyentuh lantai.

  • Karet

Material ini juga memiliki daya tahan terhadap cuaca dan suhu berkisar dari -300 C hingga 650 C. Tingkat fleksibilitas yang tinggi membuat cone ini dapat kembali ke posisi semula saat puncak cone ditekuk hingga menyentuh lantai.

  • PE

Traffic cone PE terbuat dari polyethylene yang aman dan tidak berbau. Material ini merupakan material yang ramah lingkungan karena dapat melalui proses recylce dan reused. Keuntungan lainnya adalah kemampuan atau daya tahan terhadap cuaca yang baik, serta textur yang menyerupai lilin.

  • EVA

Traffic cone EVA terbuat dari bahan EVA yang bersifat biodegradable atau dapat terurai, tidak memiliki bau, dan tidak mengandung logam berat. Keunggulan utamanya adalah kemampuan dalam mempertahankan warna dan tahan lama.

Kegunaan Traffic Cone

Apa sebenarnya fungsi atau kegunaan dari traffic cone atau kerucut lalu lintas ini?

Mengacu pada standar dari MUTCD sendiri, traffic cone dipergunakan sebagai penanda untuk mengalihkan jalur sementara atau Temporary Traffic Control (TTC) Zone. Setidaknya ada 4 penggunaan traffic cone secara resmi, yaitu :

  • Area kerja, dipergunakan pada area jalan raya dimana sedang ada pembangunan, perbaikan, atau kegiatan perawatan.
  • Area kecelakaan, dipergunakan untuk mengalihkan jalur saat terjadi kecelakaan termasuk juga kondisi bencana alam
  • Area pelaksanaan kegiatan, dipergunakan untuk mengalihkan ataupun menutup jalur saat pelaksanaan kegiatan tertentu.
  • Untuk memisahkan antara jalur jalan raya untuk kendaraan bermotor dengan jalur khusus misalnya untuk para pesepeda ataupun pejalan kaki.

Tidak hanya untuk alasan resmi, penggunaan traffic cone juga dapat ditemukan untuk tujuan lain, misalnya :

  • Pembatas tempat parkir kendaraan.
  • Membantu dalam membuat rute dalam latihan mengendari mobil di lapangan.
  • Digunakan di area indoor sebagai penanda bahwa area tersebut tidak bisa dimasuki misalnya didepan ruangan yang sedang diperbaiki, atau sebagai penanda bahwa area tersebut berbahaya misalnya saja lantai basah yang baru selesai dipel.

Ukuran Traffic Cone Sesuai Kegunaan dan Penempatannya

Ukuran penanda lalu lintas traffic cone sendiri tergantung penempatan alat tersebut. Rincian ukuran traffic cone sesuai dengan kegunaan dan penempatannya adalah :

  • Tinggi 12 inci dan berat 0.68 kg dipasang di area
  • Tinggi 18 inci dan berat 1.4 kg dipasang di area outdoor atau di jalan raya, misalnya sebagai penanda saat proses pengecatan garis jalan.
  • Tingi 28 inci dan berat 3.2 kg dipasang di jalan raya lokal.
  • Tinggi 28 inci dan berat 4.5 dipasang di jalan raya besar atau jalan tol.
  • TInggi 36 inci dan berat 4.5 kg dipasang di jalan raya besar atau jalan tol.

Sementara itu, standar dari MUTCD terkait dengan ukuran traffic cone adalah :

  • Traffic cone harus didominasi oleh warna orange
  • Terbuat dari material yang tidak akan menyebabkan kerusakan pada kendaraan yang menabraknya.
  • Traffic cone yang dipergunakan di siang hari dan jalan raya dengan arus lalu lintas rendah, harus memiliki tinggi minimal 18 inci.
  • Traffic cone yang dipergunakan di malam hari dan jalan bebas hambatan atau jalan tol harus memiliki tinggi minimal 28 inci.
  • Untuk penggunaan di malam hari, penanda lalu lintas ini aharus memiliki lapisan reflektif (retroreflectorized) atau dilengkapi dengan peralatan pencahayaan agar mudah terlihat. Lapisan reflektif ini berupa 2 buah band (strip). Strip pertama berada 3-4 inci dari puncak cone dengan lebar 6 inci dan strip kedua berada 2 inci dibawahnya dengan lebar 4 inci.

Sejarah Awal Kerucut Lalu Lintas

Traffic cone pertama kali diperkenalkan pada tahun1940 di Los Angeles oleh seorang pelukis jalanan bernama Charles Scanlon. Scanlon membuat penanda berongga yang berbentuk kerucut untuk mencegah mobil dan kendaraan lain melintas di jalan yang baru selesai di cat. Pada awalnya, perangkat ini terbuat dari kayu yang mudah rusak dan sering ditabrak oleh pengguna jalan. Scanlon bekerja sama dengan rekannya bernama Rodney Taylor untuk membuat penanda yang lebih awet dengan bahan baret dari ban bekas. Hasilnya adalah sebuah penanda yang lebih elastis, tidak mudah rusak, tidak mudah terbawa angin, mudah dipindahkan, serta tidak akan merusak bodi kendaraan yang menabraknya. Hasil penemuan ini kemudian dipatenkan pada tahun 1943 dan mulai saat itu, penggunaannya mulai meluas. Pada tahun 1947, traffic cone mulai diproduksi secara massal. Penggunaan penanda ini mulai dipergunakan secara internasional pada tahun 1958. Penanda kerucut lalu lintas kemudian masuk ke dalam aturan rambu lalu lintas jalan atau The Manual of Uniform Traffic Control Devices (MUTCD) pada tahun 1961. Peraturan penggunaan dan pengembangan dari alat penanda ini kemudian terus berkembang hingga saat ini.

Pada tahun 1971, muncul aturan baru mengenai traffic cone. Kerucut lalu lintas harus dibuat sesuai dengan standar yaitu memiliki ketinggian minimal 18 inci serta memiliki lapisan reflektif agar bisa terlihat jelas di malam hari.