KEUNGGULAN MASKER RESPIRATOR

Keunggulan Filter Ganda: Masker respirator dengan filter ganda memiliki keuntungan tambahan dalam menyaring partikel dan mikroba dibandingkan dengan masker respirator dengan filter tunggal. Dengan menggunakan dua lapisan filter, kemampuan penyaringan ditingkatkan secara signifikan, meminimalkan risiko partikel berbahaya yang melewati masker.

Penyaringan Partikel yang Lebih Efektif: Dalam beberapa situasi, seperti di area dengan tingkat polusi tinggi atau saat berinteraksi dengan bahan kimia berbahaya, masker respirator dengan filter ganda menawarkan perlindungan yang lebih baik. Filter pertama bertugas menyaring partikel-partikel kasar, sedangkan filter kedua menyaring partikel-partikel lebih kecil yang lolos melalui filter pertama. Dengan cara ini, masker respirator dengan filter ganda dapat menangkap lebih banyak partikel berbahaya dan mengurangi risiko paparan.

Perlindungan terhadap Penyakit Menular: Masker respirator dengan filter ganda juga menjadi pilihan yang tepat saat menghadapi penyakit menular, terutama jika terjadi penyebaran melalui partikel udara. Dengan memiliki dua lapisan filter yang efektif, masker respirator ini dapat mengurangi risiko inhalasi virus, bakteri, atau mikroba lainnya, dan membantu mencegah penularan penyakit.

Kualitas Udara yang Lebih Bersih: Masker respirator dengan filter ganda juga membantu menciptakan kualitas udara yang lebih bersih di sekitar penggunanya. Dengan menyaring partikel-partikel berbahaya, masker respirator ini dapat mengurangi iritasi pernapasan dan masalah kesehatan lainnya yang disebabkan oleh paparan udara yang terkontaminasi.

Kompatibilitas dan Kenyamanan: Meskipun masker respirator dengan filter ganda memiliki lapisan tambahan, mereka dirancang untuk memberikan kenyamanan dan sirkulasi udara yang baik. Banyak model masker respirator dengan filter ganda memiliki desain yang ergonomis dan fitur-fitur seperti katup pernapasan, sehingga pengguna dapat bernapas dengan mudah sambil tetap mendapatkan perlindungan maksimal.

Masker Respirator Perlindungan untuk Keselamatan Kerja

Masker respirator adalah alat perlindungan pribadi yang dirancang untuk melindungi penggunanya dari inhalasi partikel berbahaya, zat kimia, atau patogen penyakit yang terdapat dalam udara. Masker respirator bekerja dengan menyaring udara yang dihirup melalui sistem filtrasi yang efektif, sehingga mengurangi risiko paparan dan potensi kerusakan pada sistem pernapasan.

Masker respirator adalah alat yang sangat penting untuk keselamatan kerja di berbagai sektor industri. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa masker respirator menjadi kunci dalam melindungi karyawan dari bahaya di tempat kerja:

Perlindungan Terhadap Partikel Berbahaya: Di banyak industri, karyawan terpapar partikel berbahaya seperti debu, serbuk logam, asap, dan bahan kimia. Masker respirator dengan filter yang tepat dapat menyaring partikel-partikel ini sebelum mereka masuk ke dalam sistem pernapasan karyawan. Ini membantu mencegah kerusakan paru-paru, penyakit pernapasan, dan potensi gangguan kesehatan serius lainnya.

Pengendalian Paparan Bahan Kimia: Di sektor industri yang menggunakan bahan kimia berbahaya, masker respirator dengan filter khusus dirancang untuk melindungi karyawan dari paparan yang dapat menyebabkan keracunan atau iritasi. Masker respirator yang tepat dapat menyaring dan menghilangkan partikel-partikel kimia tertentu dari udara yang dihirup, menjaga karyawan tetap aman dan sehat saat bekerja dengan bahan kimia berbahaya.

Pencegahan Penyebaran Penyakit Menular: Masker respirator juga penting dalam mengurangi risiko penyebaran penyakit menular di tempat kerja. Dalam situasi di mana karyawan bekerja dengan orang yang sakit atau berisiko tinggi, masker respirator membantu mengurangi penyebaran virus atau bakteri melalui droplet udara. Masker respirator dengan rating N95 atau lebih tinggi dapat menyaring partikel mikroba yang terhirup, membantu mencegah penyebaran penyakit di lingkungan kerja.

Keselamatan di Lingkungan dengan Kualitas Udara Buruk: Beberapa sektor industri atau lokasi kerja mungkin memiliki kualitas udara yang buruk, misalnya di konstruksi atau pertambangan. Masker respirator dapat memberikan perlindungan tambahan dengan menyaring partikel-partikel berbahaya dalam udara yang dihirup, membantu menjaga karyawan tetap aman dari paparan polutan udara.

Kepatuhan Terhadap Regulasi Keselamatan: Penggunaan masker respirator juga penting untuk mematuhi regulasi keselamatan kerja yang ditetapkan oleh pemerintah atau lembaga pengawas industri. Dalam sektor-sektor tertentu, masker respirator mungkin menjadi persyaratan wajib yang harus dipenuhi untuk melindungi karyawan dari bahaya yang mungkin mereka hadapi.

Dalam rangka memastikan efektivitas masker respirator, penting untuk memilih masker yang sesuai dengan risiko spesifik yang ada di tempat kerja, memastikan masker pas dengan sempurna dan memiliki segel yang ketat di wajah, serta memberikan pelatihan yang tepat kepada karyawan dalam penggunaan dan perawatan masker respirator.

APA PERBEDAAN RESPIRATOR PROTECTION DENGAN MASKER?

Respirator adalah alat pelindung yang digunakan untuk melindungi pernapasan  dari kontaminan udara tertentu dari udara ambien sekitar dengan memasok udara yang dapat dihirup dari sumber yang aman. Berbeda dengan masker, respirator memiliki ciri khas yaitu harus rapat dan fit diwajah saat dipakai. Pada umumnya respirator memiliki fungsi untuk menyaring (filtrasi) kontaminan di udara agar tidak masuk ke dalam sistem pernapasan.

Sedangkan masker adalah alat pelindung diri yang digunakan untuk melindungi hidung dan mulut dari kontaminasi yang ditularkan melalui percikan (droplet) maupun lewat udara (airborn).

  • Perbedaan Tingkat Perlindungan

Tingkat Perlindungan Respirator N95, FFP2, KN95, dan KF94 memiliki tingkat perlindungan yang lebih tinggi. N95 dapat menyaring partikel sebesar 95%, sedangkan FFP2, KN95, dan KF94 dapat menyaring partikel sebesar 94%.

Tingkat perlindungan masker bervariasi, tergantung pada jenis masker yang digunakan. Masker bedah umumnya memiliki tingkat perlindungan 60-70%, masker kain dan masker medis memiliki tingkat perlindungan yang rendah. Masker kain hanya dapat menyaring partikel sebesar 30-60%, sedangkan masker medis dapat menyaring partikel sebesar 70-95%.

  • Perbedaan Fungsi

Respirator berfungsi untuk menyaring dan melindungi pengguna dari paparan bahan kimia dan polusi udara dari berbagai jenis kontaminan  partikel kecil di udara (debu, gas dan uap), termasuk aerosol. Aerosol adalah partikel yang sangat kecil dan dapat melayang di udara selama berjam-jam.

Sedangkan masker berfungsi untuk menyaring partikel besar di udara, seperti tetesan air liur saat batuk atau bersin. Masker juga dapat membantu mencegah penyebaran virus dan bakteri ke orang lain. untuk melindungi penggunanya dari tetesan besar yang keluar saat orang lain batuk atau bersin. Masker juga dapat membantu mencegah penyebaran virus atau bakteri melalui droplet.

Pengertian dan Standar Respirator

Apa itu respirator? Respirator adalah alat pelindung yang digunakan untuk melindungi pernapasan Anda dari kontaminan udara. Berbeda dengan masker, respirator memiliki ciri khas yaitu harus rapat dan fit diwajah saat dipakai. Pada umumnya respirator memiliki fungsi untuk menyaring (filtrasi) kontaminan di udara agar tidak masuk ke dalam sistem pernapasan Anda. Ada beberapa standar yang dikenal oleh para ahli dan praktisi K3 terkait respirator, seperti NIOSH dengan N95 nya, FFP2 dari Eropa, KN95 dari China, serta KF94 dari Korea.

NIOSH adalah singkatan dari National Institute of Occupational Safety and Health. NIOSH merupakan lembaga nasional dari Amerika Serikat (US) yang berwenang mengeluarkan standar tentang kesehatan dan keselamatan kerja untuk negaranya. Standar N95 yang sering kita dengar juga merupakan standar yang dikeluarkan oleh NIOSH.

N95 memiliki arti:

N: Kode indikasi bahwa produk ini tidak memiliki resistensi terhadap minyak.

95: Kode indikasi mengenai kemampuan filtrasi partikel produk ini sebesar 95%.

Selain kode “N”, ada juga kode “R” dan “P” yang memiliki makna:

R: kode indikasi bahwa produk ini memiliki resistensi minyak terbatas atau dalam kadar tertentu (somewhat resistant to oil).

P: kode indikasi bahwa produk ini memiliki resistensi yang kuat terhadap minyak (strongly resistant to oil).

Tipe Respirator Standar NIOSH

Ada beberapa tipe respirator dari standar NIOSH, seperti:

N95: Respirator N95 yang memiliki tingkat filtrasi hingga 95%

Surgical N95: Respirator N95 yang memiliki tingkat filtrasi hingga 95% dan telah mendapatkan persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA) untuk kategori masker medis. Contoh produknya adalah respirator 3M 1870+.

N99: respirator ini memiliki tingkat filtrasi terhadap partikel di udara sebesar 99%. Produk ini tidak memiliki resistensi terhadap minyak.

N100: respirator ini memiliki tingkat filtrasi terhadap partikel di udara sebesar 99.97%. Produk ini tidak memiliki resistensi terhadap minyak.

R95: respirator ini dapat memfiltrasi partikel di udara hingga 95%. Produk ini memiliki resistensi terbatas terhadap minyak.

P95: respirator ini dapat memfiltrasi partikel di udara hingga 95%. Produk ini memiliki resistensi terhadap minyak.

P99: respirator ini dapat memfiltrasi partikel di udara hingga 99%. Produk ini memiliki resistensi terhadap minyak.

P100: respirator ini dapat memfiltrasi partikel di udara hingga 99.97%. Produk ini memiliki resistensi terhadap minyak.

Pengertian Masker dan Jenisnya

Masker adalah alat pelindung pernapasan yang berfungsi untuk membatasi antara kita dengan orang lain. Produk ini membatasi dan mencegah droplet saat kita berkomunikasi dengan orang lain. Masker juga berfungsi untuk melindungi orang lain dari kita. Contohnya, jika Anda adalah dokter, Anda menggunakan masker saat berjumpa dengan pasien untuk melindungi pasien tersebut. Secara umum, masker memiliki dua jenis, yaitu masker medis dan non-medis.

Masker medis adalah masker yang memiliki standar anti cairan liquid, seperti darah. Hal tersebut menjadi faktor pembeda dengan produk masker non-medis yang tidak anti cairan liquid. Masker dengan standar medis biasanya ditandai dengan dikeluarkannya ijin edar AKL dari Kemenkes terhadap produk tersebut. Ijin edar AKL bisa dikatakan sebagai bukti bahwa memang benar produk tersebut masuk standar medis. Masker ini cocok digunakan oleh tenaga kesehatan (nakes), pekerja laboratorium, dan bisa juga digunakan oleh masyarakat umum.

Masker non-medis adalah masker pada umumnya yang banyak beredar di masyarakat, seperti masker kain, masker 3 ply, dan lainnya yang tidak memiliki standar medis. Terdapat masker 3 ply non-medis dan masker 3 ply medis yang beredar di pasaran. Pembedanya adalah yang satu berstandar medis dengan AKL sebagai nilai tambahnya, sedangkan yang satu lagi tidak berstandar medis.

Pentingnya Ketersediaan APAR di Mobil

Alat Pemadam Api Ringan (APAR) merupakan salah satu benda penunjang keselamatan yang sangat penting. APAR bisa menjadi pertolongan pertama saat terjadi kebakaran, termasuk kebakaran di mobil. Dengan adanya APAR, jika kendaraan terbakar diharapkan kerusakan tidak meluas dan tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

  • Penyebab Kebakaran pada Mobil


Belakangan ini kita sering sekali melihat atau mendengar berita di media sosial maupun di TV yang menginformasikan terjadinya kebakaran pada kendaraan bermotor, khususnya mobil. Namun, tahukah Anda beberapa kemungkinan penyebab terjadinya kebakaran tersebut? Kebakaran pada mobil bisa terjadi kapan saja, baik saat mobil sedang digunakan atau tidak digunakan. Berikut adalah beberapa penyebab mobil terbakar:

  • Kebocoran bahan bakar dan oli
  • Modifikasi aksesoris mobil yang terpasang tidak benar dan melebihi kapasitas ketahanan kabel
  • Mesin mobil overheat yang menimbulkan korsleting listrik sehingga memicu mobil terbakar
  • Masalah pada sistem kelistrikan, seperti kabel longgar atau terkelupas
  • Menyimpan barang-barang yang mudah terbakar di dalam mobil
  • Perawatan kendaraan yang kurang maksimal
  • Kecelakaan/tabrakan yang menyebabkan komponen mobil mengalami kerusakan yang bisa memicu kebakaran dan ledakan

Kementerian Perhubungan pada tanggal 18 Februari 2020 mengeluarkan regulasi terkait hal tersebut dalam Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor: KP.972/AJ.502/DRJD 2020 tentang Fasilitas Tanggap Darurat Kendaraan Bermotor. Dalam Pasal 2 Ayat 2 tercantum:

“Kendaraan bermotor untuk kategori M1, N1, N2, N3, O1, O2, O3, dan O4 untuk mobil penumpang, mobil barang landasan mobil penumpang, dan landasan mobil barang wajib dilengkapi fasilitas tanggap darurat berupa alat pemadam api ringan.”

Sebagai salah satu peralatan pertolongan pertama, pentingnya APAR juga tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 57. Dalam pasal tersebut disebutkan:

(1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di jalan wajib dilengkapi dengan perlengkapan Kendaraan 
Bermotor.
(2) Perlengkapan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) bagi Sepeda Motor berupa helm Standar Nasional Indonesia.
(3) Perlengkapan  sebagaimana  dimaksud  pada  Ayat  (1)  bagi Kendaraan Bermotor beroda empat atau lebih, sekurang-kurangnya terdiri atas: 
a. sabuk keselamatan; 
b. ban cadangan;
c. segitiga pengaman;  
d. dongkrak; 
e. pembuka roda; 
f. helm dan rompi pemantul cahaya bagi Pengemudi Kendaraan Bermotor beroda empat atau lebih yang tidak memiliki rumah-rumah; dan 
g. peralatan pertolongan pertama pada Kecelakaan Lalu Lintas.

Merujuk pada peraturan tersebut, saat ini seluruh mobil baru, mulai dari tahun 2021, wajib dilengkapi dengan APAR. Sedangkan untuk mobil keluaran tahun sebelumnya diharapkan melengkapi APAR sendiri.

Aspek-aspek yang Harus Diperhatikan Ketika Menggunakan APAR

APAR merupakan alat pencegah terjadinya kebakaran yang biasanya ada di setiap titik bangunan. Oleh karena itu, setiap orang dapat menggunakannya bahkan ketika mereka hanya sendiri, berikut adalah aspek-aspek yang harus diperhatikan agar proses pemadaman api tidak mengalami kendala:

  • Saat menyemprotkan APAR, jangan menyemprotkannya pada posisi yang berlawanan dengan arah angin.
  • Jangan menekan tuas APAR dan menarik safety pin secara bersamaan.
  • Pastikan untuk membawa tabung yang berukuran besar dengan memanggulnya, dan bukan dengan mengangkat atau menjinjingnya.
  • Gunakan APAR dengan jarak 3 meter hingga 5 meter dari titik api.

Dengan mengikuti panduan tersebut, proses pemadaman api dapat dilaksanakan dengan efisien hingga api dapat terkendali. Selalu perhatikan aspek-aspek penting ketika memadamkan api.

Kelas-kelas (Golongan) Kebakaran

Untuk jenis APAR yang digunakan agar efisien dalam pengendalian kebakaran, perlu diketahui kelas-kelas (golongan) kebakaran atau sumber penyebab kebakaran. Dalam Permenaker No. Per-04/MEN/1980 kelas atau golongan kebakaran dibagi menjadi 4 golongan, yaitu Golongan A, B, C, dan D.

Berikut adalah beberapa kelas atau golongan kebakaran dan berbagai jenis alat pemadam api yang bekerja dengan baik untuk memadamkannya:

1. Kebakaran Kelas A

Bahan padat non-logam, termasuk kertas, plastik, kain, kayu, karet, dan lainnya, umumnya menghasilkan kebakaran Kelas A. Alat pemadam api air (Water), alat pemadam api busa (Foam), dan alat pemadam jenis tepung kimia (Dry Power) adalah jenis alat pemadam api yang sesuai untuk memadamkan api Kelas A.

2. Kebakaran Kelas B

Zat cair yang mudah terbakar seperti minyak (bensin, solar, oli), alkohol, cat, pelarut, metanol, dan lainnya dapat menyebabkan kebakaran Kelas B. Jenis APAR yang cocok untuk memadamkan kebakaran Kelas B adalah  APAR jenis Karbon Dioksida (CO2), APAR jenis Busa (Foam) dan APAR jenis Tepung Kimia (Dry Powder).

3. Kebakaran Kelas C

Kebakaran yang diklasifikasikan sebagai Kelas C adalah kebakaran yang disebabkan oleh instalasi listrik bertegangan. Jenis APAR yang cocok untuk memadamkan kebakaran Kelas C adalah APAR jenis Karbon Dioksida (CO2) dan APAR jenis Tepung Kimia (Dry Powder).

4. Kebakaran Kelas D

Kebakaran dalam kategori Kelas D adalah kebakaran yang disebabkan oleh logam yang mudah terbakar termasuk potassium, magnesium, aluminium, lithium, dan sodium. Diperlukan alat pemadam api yang khusus untuk memadamkan api semacam ini.

Bagaimana Cara Menggunakan APAR di Area Kerja Sesuai Prosedur?

APAR merupakan alat pencegah terjadinya kebakaran yang biasanya ada di setiap titik bangunan. Oleh karena itu, setiap orang dapat menggunakannya bahkan ketika mereka hanya sendiri. Berikut ini adalah prosedur penggunaan APAR dan proses pemadaman api menggunakan APAR yang aman dan sesuai:

1. Tarik atau Lepas Pin Pengunci Tuas

Setiap APAR pasti memiliki sebuah pin yang berfungsi untuk mengunci tuasnya agar tidak dapat digunakan dengan sembarangan. Untuk menggunakannya, pertama-tama Anda harus menarik atau melepaskan pin pada tuas tersebut.

2. Arahkan Slang

Apabila tuas APAR sudah berhasil dilepas segelnya, sekarang Anda perlu mengarahkan slangnya ke sumber api. Pastikan untuk mengarahkannya dengan benar dan tegak karena terkadang air, busa, atau bahan yang ada di dalam APAR akan keluar dengan kecepatan yang tinggi.

3. Tekan Tuas

Apabila sudah mengarahkan ujung selang dengan benar dan mengambil posisi yang kuat untuk memadamkan api, selanjutnya Anda hanya perlu menekan tuas saja. Pastikan untuk menekannya dengan kencang karena terkadang APAR sudah mulai berkarat karena tidak pernah digunakan dalam waktu yang lama.

4. Kibas Slang

Ketika bahan pemadam sudah keluar dari APAR, pastikan untuk mengibas slangnya ke berbagai arah agar dapat menutupi seluruh sumber api. Dengan begitu, api tidak akan menyebar dan Anda dapat mencegah terjadinya kebakaran.

Mengenal tentang APAR

Alat pemadam api ringan (APAR) atau fire extinguisers adalah alat pemadam api yang mudah dipergunakan oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. APAR dapat berupa tabung jinjing, gendong  maupun  beroda.  Berbagai  hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  APAR  berhasil  menanggulangi sekitar 30 % kejadian kebakaran. Oleh karena sifatnya yang hanya dapat menanggulangi kebakaran awal dan mudah dipergunaka oleh satu orang maka APAR biasanya hanya mempunyai durasi semprot yang relatif singkat (dalam bilangan menit).

Berdasarkan konstruksinya APAR biasanya dibuat dalam dua kelompok yaitu :
(1) stored pressure type (SPT)
(2) gas cartridge type (GCT)

Stored  pressure  type  (tersimpan  bertekanan)  adalah  APAR  yang  memakai  gas  pendorong  bertekanan tercampur bersama media pemadamnya. Gas pendorong yang dipakai adalah Nitrogen (N2). Ciri luar dari APAR ini biasanya ada penunjuk tekanan gas diluarnya. Sedangkan gas cartridge type adalah jika gas pendorong terletak pada cartridge tersendiri, terpisah dari media pemadamnya. Gas yang dipergunakan biasanya adalah gas CO2 (carbon dioksida atau gas asam arang. Dilihat dari media pemadamnya APAR yang sering dipakai adalah :

1. APAR Jenis Air
Pada jenis ini media pemadamnya berupa air yang terletak pada tabung. Dibuat dalam dua konstruksi yaitu SPT dan GCT. Jarak jangkau pancaran sekitar 10 ft sampai 20 ft. Dan waktu pancaran sekitar satu menit untuk kapasitas 2,5 galon. Hanya direkomendasikan untuk kebakaran jenis A, dengan luas bidang jangkauan sekitar 2500 ft persegi, jarak penempatan setiap 50 ft.

2. APAR Jenis Busa
Tabung utama berisi larutan sodium bikarbonat (ditambah dengan penstabil busa). Tabung sebelah dalam berisi larutan aluminium sulfat. Campuran dari kedua larutan tersebut akan menghasilkan busa dengan volume 10 kali lipat. Busa ini kemudian didorong oleh gas pendorong (biasanya CO2 ). Kapasitas yang ada di pasaran adalah 2,5, 10, 20 dan 30 galon. Jangkauan semprot sekitar 10 sampai 15 meter untuk yang 2,5 galon habis dalam satu menit. Sedang yang 30 galon biasanya tipe beroda dengan jangkauan sampai 20 meter dengan waktu sampai 4 menit. Pemadaman dengan busa diperuntukan cairan mudah terbakar (bensin, solar dan lain sebagainya). Busa akan menutup (menyelimuti) seluruh permukaan yang mudah terbakar sehingga mengisolasi oksigen. APAR jenis ini tidak direkomendasikan untuk kebakaran karena karbon disulfida, ether, tiner dan alkohol karena cairan ini bersifat merusak busa. APAR jenis busa harus digunakan sampai habis karena tidak bisa digunakan ulang. Untuk pemeliharaan check kondisi nosel setiap bulan dan lakukan uji hidrostatik setiap tahun.

3. APAR Jenis Karbon Dioksida
APAR jenis ini memadamkan dengan cara isolasi (smothering) di mana oksigen diupayakan terpisah dari apinya. Di samping itu CO2 juga mempunyai peranan dalam pendinginan. Material yang diselimuti oleh CO2 akan cenderung lebih dingin. Konstruksi APAR ini terdiri dari tabung tahan tekanan tinggi yang berisi gas CO2 , pipa siphon, katup dan corong. Bila katup dibuka maka cairan gas akan mengalir dan berubah menjadi es dan gas. Bila tabung telah dipakai 10 % maka harus diisi kembali. APAR jenis ini dapat dipergunakan untuk cairan yang mudah terbakar dan peralatan listrik. Dapat juga untuk api kelas A tetapi tidak boleh dipakai untuk kelas D. Di pasaran tersedia baik untuk yang jenis portable maupun beroda. Dapat dipakai untuk berbagai cairan mudah terbakar yang merusak busa (dimana APAR busa tidak bisa digunakan). APAR jenis CO2 tidak korosif dan tidak meninggalkan bekas. Tidak menghantar listrik, namun kualitasnya akan menurun bila tidak digunakan dalam waktu yang lama. Bila bobot turun sampai 10 % maka perlu diisi ulang.